Thursday, 30 June 2011 14:56

Pesat, Perkembangan e-Commerce di Indonesia

Pesat, Perkembangan e-Commerce di Indonesia

Dari FGD Bersama Pelaku Bisnis e-Commerce

Untuk mendapatkan pemahaman mendalam dan terbaru mengenai e-commerce, Marketeers bersama MarkPlus Insight menggelar Focus Group Discussion, Rabu 11 Mei 2011 di kantor MarkPlus, Jakarta. Hadir dalam diskusi terarah ini pelaku bisnis e-commerce seperti Danny Wirianto dari Kaskus.us, Remco Lupker dan Arno Sebastian dari Tokobagus. com, Reino Barack dan Doddy dari Rakuten.co.id, Kusumo Martanto dari Blibli.com, Edi Taslim dan Tommy Anugroho dari Gramediashop.com, Daniel Tumiwa dari Multiply.com, serta Richard Gunawan dari BCA.

Seluruh peserta diskusi bersemangat saling menimpali cerita satu sama lain ketika ditanya faktor keunggulan e-commerce yang membuat mereka terjun ke bisnis ini. Pertama adalah unsur kemudahan. Calon pembeli tidak harus pergi ke banyak tempat untuk membeli barang. Transaksi dapat dilakukan di mana saja.

Faktor kedua adalah adanya rentang variasi yang tidak terbatas, sehingga barang yang mungkin sulit dicari di toko konvensional bisa ditemukan di e-commerce. Ketiga adalah kemungkinan melakukan pemilihan dan perbandingan secara angsung. Pembeli bisa mencari suatu barang dengan spesifikasi tertentu alu membandingkannya aengan penawaran lain dari penjual lain atau antar sesama toko online.

Faktor keempat adalah harga yang biasanya bersaing, bahkan jauh lebih murah daripada jika membeli di toko konvensional. Para peserta diskusi sepakat bahwa inti dari seluruh faktor adalah bahwa e-commerce itu betul-betul memudahkan konsumen. Karena itu, jika mall sebagai tempat belanja konvensional memberikan nilai tambah seperti adanya lahan parkir yang luas atau sarana hiburan penunjang lain agar konsumen merasa nyaman, maka toko online dapat memberikan service tambahan berupa kecepatan delivery yang andal agar konsumen tidak kapok berbelanja di tokonya.

Seluruh peserta diskusi merasa optimis dengan masa depan bisnis e-commerce di negeri ini. Seperti yang disampaikan Reino Barack bahwa kini makin banyak investor, termasuk dari Jepang, yang melihat perkembangan bisnis e-commerce di Indonesia kini cukup pesat. Danny Wirianto pun memperhatikan fenomena bahwa orang Indonesia mempunyai daya struggle yang tinggi. Menurutnya, seandainya pemerintah Indonesia tidak mendukung dalam hal infrastruktur, maka publik akan cenderung "berusaha sendiri", entah bagaimana caranya bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Hal senada dilontarkan Daniel Tumiwa dari Multiply, com. Tokoh yang pernah ikut membesarkan MTV Asia ini menggambarkan konteks bisnis e-commerce di Indonesia kini sebagai keadaan masyarakat yang chaos sehingga orang cenderung untuk survive dengan secara aktif mencari cara agar tetap bisa hidup.

Ke depannya, peserta diskusi membayangkan bahwa bisnis ini akan semakin mengambil peran. Belajar dari bagaimana pasar tradisional bisa tetap bertahan di tengah gempuran mal dan pasar modern, bisa saja kelak ada Manggadua. com atau Tanahabang. com yang menampilkan merchant-merchant berupa toko-toko offline di tempat itu dan menjajakan barang jualan lewat display di internet. Sehingga konsumen dapat mencari barang yang diinginkan, baru mendatangi lokasi untuk membelinya.

Peserta diskusi memandang ke depan, metode pembayaran rupanya jadi persoalan tersendiri bagi para pelaku bisnis online ini. Jika di luar negeri kebanyakan orang berbelanja online menggunakan credit card, di Indonesia konsumen online masih lebih memilih menggunakan transfer antar bank atau cash on delivery. Masih ada ketakutan konsumen menggunakan credit card karena khawatir data-data dapat disadap. Cara pembayaran yang paling banyak saat ini adalah dengan cara transfer antar bank. Cara pembayaran tunai ketika barang datang atau COD sudah mulai menurun, sementara dengan credit card tetap sedikit.

Hal ini jadi perhatian bagi seluruh peserta diskusi. Sebab tentu saja pembayaran dengan credit card akan

lebih memudahkan dari sisi toko online, seperti diakui Edi Taslim. Di Gramediashop.com sendiri, konsumen yang membayar menggunakan credit card hanya sekitar dua persen saja. Sementara Danny menegaskan pentingnya kepercayaan pada brand. Di Kaskus pembeli percaya untuk mentransfer uang ke rekening penjual secara individu karena brand Kaskus sudah terpercaya. Peserta diskusi yang lain juga membagi kiat mereka untuk menjembatani hal ini, seperti pemberian potongan harga dan bonus jika pembeli online menggunakan credit card.

Membahas masalah kepercayaan pembeli, peserta diskusi lalu mengetengahkan pentingnya peran situs-situs jejaring sosial. Danny mengungkap, netters Indonesia itu aksesnya ke situs jejaring sosial sangat tinggi, seperti Facebook, Twitter hingga Blackberry Group. Jika ada netters yang puas membeli di satu toko, ia akan cenderung bercerita ke teman-temannya dalam jaringan.

Dalam dunia internet ini kegiatan bisnis e-commerce dan social networks itu terkait tak terpisahkan. Karena itu, peran word of mouth ini mutlak.

Marketeers, Juni 2011 | SATRIO

Read 3312 times

1 comment

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.